Qanita Afia Sajidah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Bagian Dua: Arti Jati Diri dan Makna Hidup

BAGIAN DUA

ARTI JATI DIRI DAN MAKNA HIDUP

Alarm berdering nyaring, membangunkan Raveena dari tidur nyenyaknya, dengan kesadaran yang tipis tangannya bergerak mematikan alarm. Pagi menyambut hangat, sinar matahari masuk melewati celah tirai. Kaca mengkilap itu memantulkan cahaya matahari yang lembut. Perlahan, mata Raveena terbuka, menatap kamarnya yang diterangi oleh cahaya matahari, beberapa bagian masih dalam keadaan gelap dan didominasi bayang malam serta hawa dingin yang melekat.

"Pukul 5.55," lirih Raveena.

Setelah matanya terbuka sempurna, ia mengambil posisi duduk dan meraih segelas air mineral yang ia letakkan juga di nakas, untuk berjaga-jaga jikalau ia merasa haus. Gelas telah tandas dalam satu tegukan sekaligus, meletakkan kembali ke tempatnya dan melenggang pergi dari kasur. Hari ini, hari Senin, hari pertamanya masuk SMA. Dari semalam, jantungnya tak berhenti berdegup kencang lantaran gugup dengan suasananya nanti. Punggung dan tengkuknya merasa panas ketika memikirkan hal itu terlalu lama.

Raveena menuruni tangga, memperhatikan kondisi di lantai bawah. Hanya ada televisi yang menyala tanpa penonton, acara yang ditampilkan pun hanyalah berita pagi hari. Mungkin kakak atau ibu yang menyalakannya, pikir Raveena sambil menekan tombol off pada remote televisi. Langkah kaki Raveena membawa dirinya ke kamar mandi, ruangan lembab dan dingin berukuran sedang yang menggunakan bahan granit sebagai lantai dan dindingnya, pemandangan minimalis yang menyejukkan di pagi hari.

"Sebaiknya tidak berlama-lama di sini."

Dengan berat hati, ia menyegerakan kegiatan mandi paginya dan segera menggenakan seragam SMAnya. “Sudah mandi, ya?” Sapaan pagi dari sang ibu menyapa telinga Raveena yang sedari tadi hanya mendengarkan suara alam yang tenang. “Iya, sudah, bu,” Jawab Raveena sambil mengikat dasi serapi yang ia bisa. Seragam putih-abu membalut tubuh Raveena dengan baik, rambut hitam kecoklatan itu ia beri pin rambut supaya tidak mengganggu pengelihatan.

Ia sudah cukup rapi untuk tampil di sekolah beberapa menit lagi. Begitu Obelia, sang ibu menyodorkan sarapan, detak jantung Raveena menjadi tidak karuan lagi, berdebar cepat. Merasakan opia hebat dan keringat dingin. Bahkan ia belum menginjakkan kakinya ke gerbang sekolah, tapi sudah separah ini rasa gugupnya. Tarikan napas panjang kemudian mengembuskannya lemah, menetralkan detak jantung dan desir darah yang menganggu.

Dirasa sudah cukup tenang, ia menyuapkan sesendok sarapan dari piringnya ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan lambat dan tenang. Sambil membayangkan, bagaimana rasanya memasuki masa SMA? Bagaimana rasanya masuk ke dunia yang dinanti-nanti banyak remaja? Seperti apa kenampakannya? Apa menyenangkan? Apa itu akan sangat berkesan? Pertanyaan umum mengerayapi pikiran Raveena yang masih menyuapkan sarapan ke dalam mulut.

Hal itu masih belum bisa menghapus ketegangan dalam diri Raveena, perlahan pikiran tak mengenakkan muncul. Bagaimana dengan perisakan? Bagaimana dengan pengucilan? Bagaimana dengan hal negatif yang tak terbayangkan lainnya? Bagaimana jika aku mengalaminya? Bunyi sendok dengan piring kosong mengasilkan detingan kecil yang menyentak. Raveena tersadarkan lagi, menatap piringnya yang ternyata sudah kosong.

Tangannya menyambar gelas kosong yang kemudian ia isi dengan air dan teguk hingga tandas. Memberi otaknya asupan cairan untuk bekerja nantinya. Tidak ada waktu untuk itu, Batinnya, menyemangati dirinya sendiri juga mengusir pikiran negatif dari otaknya. Hari ini ia, Raveena, sebisa mungkin harus menjalani hari pertamanya dengan positif.

“Sudah selesai? Mau berangkat sekarang?”

“Iya.”

“Ambil tasmu dulu di kamar, nanti langsung ke garasi. Ibu panggilkan kakak dulu, untuk mengantarmu.”

Keduanya naik ke lantai atas, namun tujuan mereka berbeda. Raveena berbelok ke arah kamarnya sedangkan Obelia, sang ibu pergi ke kamar Dharmandra. Perempuan itu memasuki kamarnya sendiri dengan napas berat, menatap penjuru ruangan lamat-lamat, memperhatikan segala benda yang ditata rapi dengan cermat. Memastikannya, sebelum ia meninggalkan ruangan ini, kondisi ruangan bisa dikatakan aman. Setelah mengambil tasnya dan memastikan kamar aman, ia melangkah keluar kamar dan menutup pintu.

Langkah kakinya menuruni anak tangga satu per satu dengan tergesa-gesa, menyambar sepatu hitam miliknya dan memasangnya ke kedua kaki Raveena. Mengetuk ujung sepatu beberapa kali secara bergantian, dirasa telah muat dengan ukuran kakinya, ia melanjutkan langkah ke garasi.

Figur Dharmandra yang masih terkantuk-kantuk berjongkok di samping mobil, menunggu kehadiran sang adik. Sadar akan eksistensi sang adik yang mendekat, Dharmandra bangkit dari posisinya, membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi. Raveena menyusul gerakan Dharmandra, tangannya menarik kuat pintu mobil, mendudukkan dirinya di kursi penumpang dan menutup pintu dengan membantingnya. “Ayo, kak,” Ucap Raveena setelah mendapatkan posisi nyaman untuk duduk.

Mesin mobil menyala dan berbunyi sayup, kemudian melaju keluar garasi. Laju mobil terbilang lambat itu membuat telinga Raveena menangkap jelas suara kerikil yang bertubrukan dengan ban. Keheningan menyergap, hingga Raveena memberanikan diri untuk membuka mulutnya guna bertanya kepada sang kakak.

“Kak,” Panggil Raveena dari kursi penumpang.

Dagu Dharmandra terangkat sebagai respon. “Masa SMA itu seru gak?” Pertanyaan klasik keluar dari mulut Raveena. “Biasa aja, menurutku, lebih seru masa SMP. Ego dan kasta bakal kental di atmosfer SMA, jadi hati-hati, apalagi kalau udah ada perisakan dan semacamnya,” Jawaban objektif diberikan Dharmandra. Mengingat ingatannya selama SMA bukan hal yang disukai Dharmnadra, kalau boleh ia jujur, ia justru tidak suka dengan kenangan saat SMA.

Masa yang sentimental dan penuh kelabilan pada puncaknya, tarik-ulur yang ekstrem dan lain sebagainnya. Wajar jika seorang remaja mengalami hal tersebut dalam masa puber.

“Tampaknya kau gugup, ya ‘kan?”

“Begitulah, lagipula ini hari pertama, wajarkan?”

Dharmandra mengangguk-angguk, ia juga pernah merasakan rasa gugup yang tak kunjung berhenti, bahkan saat waktu sekolah telah usai.

Radio mobil menyala, mengalunkan musik nyetrik, menekak telinga setiap pendengarnya, sebagai ganti dari heningnya suasana. Rasanya cukup cocok untuk suasana pagi. Ritme musik seirama dengan degup jantung Raveena, berdebar kencang tak henti-henti. Berapa kali ia berusaha menghela napas dan menggosokkan telapak tangannya, guna menghilangkan perasaan opia yang terus menganggu.

Ditengah kepanikan itu, Raveena teringat tentang pertanyaan yang pertama kali muncul dibenaknya saat malam Sabtu. Apa jati dirinya? Bukankah ia sudah berkata malam tadi, ini adalah langkah pertamanya memulai pencariannya?

Bukankah ia sudah membulatkan tekadnya kuat-kuat?

Kenapa harus gugup? Apa kau tidak lelah menjadi seorang penakut begini?

Pandangan Raveena beralih ke kaca mobil, pemandangan yang berubah menjadi area sekolah, tampaknya sudah hampir sampai. Jarak sekolah—yang sekarang menjadi tempat Raveena menempuh pendidikan—dengan rumah Raveena tidak begitu jauh maupun dekat, setidaknya jaraknya tidak sejauh perjalanan menuju rumah saudaranya yang kemarin mereka kunjungi.

Dihadapan mobil, berdiri bangunan besar berwarna krem dengan biru tua yang cocok dan menenangkan, halaman luas bisa disaksikan dari mobil yang berjarak sekitar 5 meter dari gerbang. Tempat yang memiliki tampak kalem itu menyambut beberapa murid yang baru datang, sama halnya dengan Raveena. Helaan napas pasrah terembus dari rongga hidung Raveena.

“Yang semangat, dong.”

“Kalau ada cerita setelah sekolah selesai, ceritakan saja padaku.”

“Iya, makasih, ya.”

Raveena mengulas senyum manisnya kepada sang kakak yang senantiasa mendukungnya selama ini. Tangannya membuka pintu mobil dan melangkah turun dari mobil, menutupnya kembali begitu menginjakkan kakinya di atas aspal. Raveena menggetuk kaca mobil beberapa kali, sampai Dharmandra menurunkan kaca tersebut perlahan. “Ada apalagi?” Tanyanya. “Jemput aku jam sebelas tepat, tolong, ya,” Ingat Raveena. Dharmandra mengacungkan ibu jarinya, tanda paham dengan permintaan yang dilontarkan Raveena.

Mobil itu berputar balik, pergerakkannya kembali menuju rumah. Namun, figur Raveena masih berdiri mematung menghadap gerbang. Puas mengamati, ia memutuskan untuk melangkah masuk. Ah, atmosfer dan tekanan ini… Batin Raveena, sekali lagi ia menghirup banyak oksigen untuk paru-parunya.

Hiruk pikuk suasana sekolah menyambut peserta didik baru begitu kental dan riuh, namun, tekanan luar biasa juga menguar jelas. Raveena peka terhadap suasan ini, semua peserta didik yang baru, sama sepertinya, menganggap bahwa kompetisi telah dimulai. Perebutan juara hingga pemegang kasta tertinggi, menegakkan hukum alam juga begitu jelas terlihat. Saling membusungkan dada dengan angkuh, menunjukan jati diri mereka. Ya ampun, lihat ini. Situasi seperti ini memang tidak bisa dihindarkan, ya? Pikir Raveena sembari melangkah menuju papan mading, hendak melihat pembagian kelas.

Untungnya, tempat itu sepi dengan peserta didik lainnya, jadi Raveena bisa melihatnya secermat mungkin tanpa merasa terganggu atau pun mengganggu. Maniknys menatap dengan telitu setiap.kolom dan nama yang tertulis rapi di dalamnya, mencari-cari namanya.

KELAS X-2 MIPA

25. Raveena Meghana

Setelah pencarian namanya, ia akhirnya menemukannya di kolom. Menghela napas lega setelah sekian lama mendongak, membebani tengkuk yang terus menerus mendongak ke atas. Kini, ia melangkah menuju kelasnya. Eh? Memangnya aku tahu letak kelas X-2 MIPA dimana? Batinnya baru tersadar begitu figurnya terhenti di selasar. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, mencari bantuan. Lihatlah betapa kebingungannya Raveena di tengah hiruk pikuknya sekolah. "Perlu bantuan?" Suara tegas tertangkap telinga Raveena, sontak, ia menoleh ke arah suara. Seorang perempuan yang lebih tua darinya, tampaknya kakak kelas, mengenakkan almamater OSIS menghampiri.

"Mau ke kelas mana?"

"X-2 MIPA, kak."

Nadanya berubah menjadi riang, menyambut kedatangan adik kelas yang baru dengan hangatnya. Senyum manis terulas dari bibir sang kakak kelas, berjalan mengiringi Raveena namun juga memimpin arah. Keduanya berjalan menaiki tangga, berbelok ke kanan dan berhenti di pojok selasar. Dari arah kanan mereka, pintu kelas yang ditempel secarik kertas bertuliskan 'KELAS X-2 MIPA' menggunakan font yang besar serta tebal.

"Ini kelasnya, semangat belajarnya!"

Sang kakak kelas melambai, berjalan ringan meninggalkan Raveena di depan kelas. "Makasih, kak," Ucapnya lirih, kemudian menempelkan telapak tangannya di kenop pintu kelas, mendorongnya ke depan untuk membuka. Puluhan pasang mata menatap Raveena lurus dan tajam. Memperhatikan detail pergerakan dan visual Raveena, tentu membuat Raveena merasa ciut nyalinya serta terintimidasi dengan tatapan penuh penilaian juga deskriptif.

Tolong alihkan pandangan kalian, Batin Raveena memohon.

Merasa bosan dan tidak tertarik lagi, banyak dari mereka yang akhirnya mengalihkan pandangan dari Raveena, kemudian melanjutkan kegiatan semula yang terintrupsi. Banyak dari mereka yang tampaknya sudah saling mengenal, bisa dilihat dari kedekatan mereka berbicara satu sama lain, penuh semangat dan membara disetiap kata. Ada beberapa yang masih mengamati Raveena, seolah ia sebuah ancaman besar.

Suasana canggung menjadi hal lumrah di hari pertama masuk, hanya berdiam.diri memandang jendela atau meletakkan kepala di atas meja untuk mengalihkan pandangan. Dari sini.. Dari langkah ini aku akan menemukan jawabanku, Batin Raveena, menenggelamkan kepalanya diantara lipatan tangannya yang ia taruh di atas meja. Memejamkan mata erat-erat dan mengatur napas. Setidaknya sekarang detak jantungnya sudah kembali normal.

Lama waktu berjalan, sampai bel masuk berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah. Hampir semua yang berada di kelas tersentak kaget mendengar suara menekak. Kepala Raveena terangkat sedikit, memperhatikan keadaan sekitar terlebih dahulu. Peserta didik yang semula berada di meja lain kini dengan cepat berlari kecil ke mejanya, yang semula bergosip di pojok kelas Kembali menghadap ke depan.

Perlu beberapa menit hingga wali kelas memasuki ruang kelas. Bunyi alas sepatu bertemu dengan lantai keramik, memantulkan suara Langkah kaki yang mampu membuat seluruh siswa juga siswi bungkam. Pintu dibuka lebar, menapilkan sosok sang pengajar, guru yang nampaknya masih muda itu melangkah masuk, melempar senyum ramah kepada seluruh muridnya. “Bagaimana, kesan pertama kalian terhadap sekolah baru kalian ini?” Tanya sang guru kepada semuanya setelah meletakkan jurnalnya di atas meja guru.

Tidak ada yang menjawab lantaran malu dan masih belum terbiasa dengan suasana. Lantas sang guru tertawa kecil, menggelengkan kepala. “Masih belum terbiasa, ya?” Sekali lagi ia bertanya. Tanggapan yang ia dapat hanya naggukan kepala dari beberapa siswa.

“Kalau begitu, bagaimana dengan perkenalan, saya rasa dengan begitu suasananya akan sedikit mencair,” Usulnya. Jawaban “Iya” bernada rendah dilontarkan. “Dimulai dari saya, ya,” Guru itu membuka sesi perkenalan yang ada berlanjut beberapa menit ke depan. “Perkenalkan, nama Abraham Ardianto saya panggil Pak Ardi saja, saya baru menjadi guru sekitar 5 tahun yang lalu, masih muda ‘kan?” Dengan percaya diri penuh, beliau menyugarkan poni yang menghalangi pengelihatannya. Pekikkan rendah dari siswi-siswi yang duduk di kursi bagian belakang menjadi nada rendah yang mendominasi kelas. Terpana akan gerakan klasik itu.

“Baiklah, selanjutnya nomor urut pertama, Arunika Sundra, silakan maju.”

Siswi dengan jilbabnya yang rapi itu maju dengan anggun, berjalan dengan tenang ke depan kelas dan menghadapkan wajah ayunya ke hadapan kelas. Sesuatu dalam diri Raveena cuit hanya dengan satu siswi saja. Suara Arunika yang terkesan tenang serupa alunan timangan seorang ibu, memperkenalkan dirinya kemudian sedikit membungkuk. Tepuk tangan memeriahkan perkenalan Arunika, memberi semangat padanya. Begitu tepuk tangan mereda, barulah ia melangkah kembali ke kursi tempat ia duduk.

Satu per satu murid dipanggil di depan kelas, memperkenalkan diri semampu mereka, memberi tepuk tangan begitu menyelesaikan perkenalan, tak lupa sayup-sayup bernada rendah yang memberi kritikan pedas kepada mereka yang dianggap terlalu biasa atau bahkan ‘culun’. “Raveena Meghana, silakan maju ke depan dan perkenalkan dirimu,” Sambut Abraham dengan ceria, menolehkan kepalanya ke arah Raveena.

Gugup yang memudar itu, kembali memekat dalam dirinya, membuat kepalanya pusing dan berkunang-kunang. Telapak tangannya tak berhenti mengalirkan keringat gugup. Tenanglah, ini hanya sesi perkenalan saja, bukan untuk berpidato, Batin Raveena menenangkan dirinya sendiri.

Begitu menatap lurus seluruh teman sekelasnya, rasa lemas dan pusing semakin menjalar. Matanya terhalang oleh hitam karena gugup. “Pagi.. Perkenalkan nama saya Raveena, biasa dipanggil Raveena. Saya anak kedua dari dua bersaudara, umur saya 16 tahun. Asal sekolah saya SMP Negeri XX. Salam kenal, semuanya,” Ucap Raveena kemudian sedikit membungkuk. Terdengar sayup-sayup kritik tidak mengenakan,membicarakan ini dan itu, tepat setelah Raveena memperkenalkan diri. Apa ada yang salah? Apa aku melakukan hal memalukan? Apa aku membuat mereka tidak nyaman? Pertanyaan itu berputar terus menerus sampai ia menegakkan kembali tubuhnya.

“16 tahun lho, tua juga untuk ukuran masuk SMA kelas 10.”

“Pernah gak naik kelas, ya?”

“Atau jangan-jangan anak bermasalah.”

Diam… Hentikan, tutup mulut kalian. DIAM! Batinnya berteriak. Mulut Raveena terkantup rapat, menahan segala teriakkan batin. Abraham yang mengerti kondisi Raveena tengah terpojok oleh keadaan segera menepuk tangannya, menandakan siswa lain juga hendaknya menepuk tangan mereka, menyambut Raveena selayaknya teman, membuat kelas ini menjadi rumah nyamannya.

“Raveena, kau boleh duduk sekarang.”

Raveena menolah sekilas, menganggukkan kepalanya, melangkah lebar menuju tempat duduknya dan melepas ketegangannya dengan menghela napas samar.

Kepalanya terasa berat, seolah ditekan oleh sesuatu yang amat berat dan membebani. Matanya terasa berair, namun bukan hendak menangis, suhunya juga terasa meningkat dari sebelumnya. Pusing, panas. Dua hal itu sedang dikeluhkan oleh Raveena setelah sesi perkenalannya selesai. Abraham kemudian memanggil siswa lain untuk maju ke depan, memperkenalkan dirinya sama seperti yang sudah. Sampai siswa bernomor urut terakhir, 36, menyelesaikan sesi perkenalannya dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi, Abraham Kembali mengambil alih kelas.

Berjalan ke tengah kelas sambal menepuk tangannya, mengambil atensi seluruh siswa. “Setelah ini saya akan mengajak kalian keliling sekolah. Tapi sebelum itu ada yang ingin saya sampaikan, hal penting yang saya ingin kalian resapi dalam jiwa baik-baik.” Nadanya terdengar serius dan lebih berat daripada saat beliau menyapa kelas tadi.

“Kelas ini, kelas yang saya akan ajar sampai satu tahun kedepan ini, akan menjadi kelas yang paling saya dambakan.”

“Walau ini kelas MIPA yang terkenal dengan para unggulan mereka yang telah menjadi alumni dan melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, saya berharap kalian tidak hanya sekedar pintar menggunakan otak kalian atau mampu menjawab berbagai soal rumit dengan mudahnya, yang saya harapkan juga pengembangan moral juga pintar-pintar merasakan sesuatu dengan hati terdalam.”

“Menurut saya, percuma saja jika kalian pintar tapi angkuh dan songong. Penilaian terhadap orang lain—menurut saya lagi—ada dua, wajah atau kenampakannya dan sikapnya terhadap orang. Kalian tidak mendapat respect orang lain, itu hal terpenting yang ingin saya kembangkan dalam diri kalian.”

“Untuk apa, Pak?”

Salah satu siswa yang duduk di pojok kelas mengangkat tangannya untuk mendapatkan atensi Abraham. Abraham, yang menyadarinya, menjentikkan jarinya guna menyambut pertanyaan itu. “Remaja zaman sekarang memiliki moralitas yang tipis, kadang berlaku sangat kurang ajar, saya juga pernah remaja dan merasa dalam masa pemberontakkan tapi rasanya meresahkan sekali melihat hal seperti itu di depan mata saya sendiri,” Abraham memberi alasan detail.

Semua mengangguk-angguk, ada yang berbisik dengan teman sebangku atau bahkan mengalihkan pandangan lantaran tidak tertarik dengan apa yang tengah disampaikan Abraham. “Saya tidak ingin kalian hanya sebatas memiliki peringkat dan lulus dengan nilai baik, menurut saya jika sebatas itu ke depannya kalian tidak bisa meresapi makna kehidupan. Kalian adalah remaja, bukan? Remaja itu masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, ya ‘kan? Dengan begitu kalian harus membuka mata hati kalian supaya bisa melihat dunia orang dewasa menggunakan prespektif baik dan bernilai.” Sebelum ia melanjutkan perkataannya, ia menelan salivanya guna melancarkan tenggorokkan sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Makanya saya ingin mengembangkan moral kalian, di masa sentimental seperti ini moral sudah seperti hal sensitif, rasanya sulit namun menyenangkan juga ketika saya membahas hal seperti ini.” Abraham mengulas senyum.

“Saya harap kalian mengerti apa yang saya bicarakan juga bisa mengambil nilai di dalamnya. Baiklah hanya itu yang saya ingin sampaikan, sekarang berdirilah kita akan berkeliling sekolah,” Ajak Abraham, mengangkat tangannya, meminta para siswa untuk berdiri dan mengikuti langkahnya ke setiap sisi sekolah.

Sambil memimpin jalan, terkadang melempar candaan ringan yang mengundang gelak tawa beberapa siswi. Beberapa lainnya sedang menatap cermat setiap detail dari visual ruangan, selasar dan halaman, serta beberapa fasilitas lainnya. Abraham yang tak lelah berbicara itu terus mengajak siswanya berbicara, walau sebagian besar siswanya tengah beristirahat lantaran lelah menaiki tangga, mengelilingi lapangan dan masuk ke beberapa ruang tambahan seperti ruang untuk klub tertentu.

“Lantai terakhir, lantai tiga,” Ucapnya.

Membuat hampir seluruh siswa mendesah kelelahan setelah menginjakkan kakinya ke lantai tiga. Kali ini, Abraham tidaklah mengoceh tentang lelucon atau lawakan, tapi tata tertib sekolah dengan suara riangnya, juga menginformasikan kepada siswanya tentang apa yang akan mereka didapatkan jika melanggar tata tertib tersebut.

“Sekolah ini tidak menerapkan hukuman seperti halnya sekolah lain, bagi mereka yang melanggar mereka akan mendapat bimbingan selama seminggu penuh. Daripada membuat mereka jera, kepala sekolah diperiode ini ingin membuat mereka sadar atas apa yang mereka lakukan dan apa dampaknya jika dilakukan terus menerus, apa dampak lebih besarnya jika diteruskan di masa depan mereka.”

“Mungkin kalian sering mendengar ‘semakin dihukum malah semakin menjadi-jadi’, hal itu yang semakin meresahkan.”

Raveena yang sedari tadi diam hanya bisa terkagum-kagum dengan wali kelasnnya itu, prinsip yag mengembangkan moral. “Selain itu saya ingin membantu kalian untuk menemukan bidang kalian, juga tempat kalian berlabuh di masa depan nanti,” Tambahnya. Spontan, Raveena membulatkan matanya. Jadi ini benar-benar menjadi langkah awal, ya? Lihat betapa beruntungnya dirimu ini, Diri lain Raveena berbicara.

Sosok Abraham kembali memimpin jalan, puas mengarahkan siswanya berkeliling di lantai tiga, beliau mengajak mereka kembali ke kelas. Begitu pintu kelas dibuka, para siswa berlari masuk memperebutkan langkah siapa yang terlebih dahulu memasuki ruang kelas. Raveena baru memasuki kelas begitu pintu kelas tidak begitu ramai, melangkah cepat menuju tempat duduknya.

“Saya akan ke ruang guru untuk sementara waktu, silakan berbicara dengan teman sebangku atau yang lain untuk mengakrabkan diri,” Kemudian Abraham menutup pintu kelas. Bohong jika Abraham berkata dirinya akan pergi ke ruang guru, dirinya tengah berdiri menghadap ruang kelas, menyandarkan punggung di dinding selasar. Menatap kosong pintu kelas sambil menajamkan pendengarannya. Mencermati segala pembicaraan.

Terkesan tidak sopan, namun ia hanya ingin tahu secuil pembicaraan apa yang akan dilontarkan pada siswanya jika dirinya tidak hadir di dalamnya. Seperti apa sikap mereka kepada temannya? Dirasa cukup mendengarkannya, Abraham berjalan meninggalkan selasar lantai dua dan menuruni tangga menuju ruang guru.

Suasana kelas pecah, siswa siswi berhamburan ke sana kemari menghampiri teman mereka—walau baru saja mengenal, mereka dengan cepat bisa mengakrabkan diri—kemudian berbicara banyak hal. Raveena hanya bisa menompang dagu dalam keheningan, menganyunkan kedua kaki pelan-pelan sambil sesekali mengamati suasana yang semakin ribut. Hari pertama yang kaku. Suara kursi yang didorong ke belakang tepat disebelah Raveena menyita atensinya sejenak.

Pundak Raveena dengan kencang tertarik ke arah kirinya, tengah dirangkul oleh seseorang erat-erat. Hingga sang pelaku melepaskannya dan membuka mulutnya.

“Ku lihat dari tadi yang hanya diam hanya dirimu,” Celetuk seseorang.

Seorang perempuan dengan rambut panjang dikuncirnya menatap Raveena lekat-lekat. Manik indahnya berbinar begitu menatap Raveena yang kebingungan, tampak seperti menemukan hal berharga. Siswi bernama Cordelia Lea lebih memilih menyapa siswi semacam Raveena ketimbang siswi lain. Kenapa dia menatapku begitu lekat? Pikir Raveena, tubuhnya sedikit mengambil jarak dari Cordelia. “Tidak ada teman, ya?” Pertanyaan menusuk itu dilemparkan Cordelia tanpa raut bersalah. Tapi, kenyataannya memang seperti itu lantas Raveena mengangguk, mengiyakan.

“Cordelia Lea, panggil saja Del atau sesukamu saja!”

Tangan Cordelia menjabat paksa tangan Raveena, yang membuat Raveena mau tidak mau membalas jabatan tangan Cordelia. Anak ini… terkesan sok asik sekali, Keluh Raveena dalam hati, walau dirinya memaksa mengukir senyum. Cordelia, yang tampaknya senang mengajak Raveena berbicara dengannya terus menerus membuat apa pun disekitarnya menjadi sebuah topik pembicaraan. “Kau tampak tidak nyaman, apa aku menganggumu?” Cordelia memastikan, menatap Raveena dngan tatapan merasa agak bersalah dengan Tindakan sembrononya.

“Ya.. Lumayan, tapi jangan terlalu dipikirkan, silakan lanjutkan pembicaraannya.”

Raveena merasa agak tidak enak jika ia mengatakannya secara terang-terangan diharapan Cordelia yang berbaik hati mengajaknya berbicara berdua. Sebisa mungkin ia menikmati alur pembicaraan. Sambil mendengarkan seluruh ocehan Cordelia, Raveena memandang sekitar, mengamati tarik-ulur yang terjadi. Terus bergulir, berpindah tempat dengan cepat, mengambil alih dengan lihainya, juga pintar-pintar memilah banyak orang. Hal itu terjadi dalam satu waktu, menciptakan pemandangan yang menakjubkan sekaligus melelahkan.

Ini baru terjadi pada satu kelas, bagaimana jika satu angkatan dikumpulkan dalam satu ruangan yang sama? Semelelahkan apa tarik-ulur yang terjadi?

Hanya dengan memikirkan hal itu, kepala Raveena berdenyut kecil.

Interaksi di masa seperti ini memang sesulit itu, ya?

“Mengamati keadaan?”

“Ya, begitulah.”

“Tarik-ulur yang melelahkan, bukan begitu, Vee?”

“Hanya dengan melihatnya sudah terasa melelahkan. Lagian, Vee siapa?”

“Tentu saja kau, Raveena! Vee lebih terasa cocok denganmu!”

Cordelia kegirangan menyambut ide—yang menurutnya—brilian itu. Mungkin tidak terdengar begitu buruk, jadi Raveena hanya mengangguk-angguk mendengar nama panggilan barunya itu. “Oh, ada yang ingin—” Tepat sebelum Cordelia menyelesaikan omongannya, Abraham kembali dengan beberapa lembar kertas yang sesuai dengan jumlah murid di kelas. “Baiklah, sesi mendekatkan diri dengan teman sudah selesai! Tolong kembali ke tempat masing-masing dengan tertib,” Titah Abraham sambil menepuk tangannya. Kertas yang tadinya ia pegang sekarang dijepit diketiaknya. Setelah seluruh siswa kembali ke tempat mereka masing-masing, Abraham membagikan kertasnya kepada masing-masing siswa dan menyuruh mereka menuliskan jawaban dari hal yang diminta oleh Abraham di atas kertas semampu mereka. Sambil berkeliling mengawasi setiap baris, Abraham menyilangkan kedua tangan di depan dada.

“Tolong jawab dengan jujur dan semampunya saja, jika dirasa tidak mampu menjawab silakan kosongkan. Ini tidak ada kaitannya dengan nilai tamabah di rapot, jadi tidak perlu khawatir jika jawaban yang kalian jawab berbeda dengan yang lain.” Beliau mengecek setiap kertas yang dipegang masing-masing murid, melihat ada beberapa yang kesulitan.

Raveena menggerakkan tangannya dengan cepat, terbiasa dengan gerakan luwes di pergelangan tangan membuatnnya terlihat menulis lebih cepat dari yang lain. Abraham berhenti di samping meja Raveena, menatap tangan Raveena yang menuliskan jawaban dari permintaan Abraham sebelumnya. “Raveena senang melukis, ya?” Agak terkejut, Raveena mengangkat pandangannya menuju pandangan sang wali kelas.

Rasanya.. Bapak ini tak jauh beda dengan kakak. Tebakannya tepat semua, Batin Raveena dengan tangan yang berhenti menulis.

“Sesuai dengan tebakan Bapak, saya suka melukis.”

Tak terasa, bel tanda istirahat berbunyi sama nyaringnya dengan bel masuk beberapa jam sebelumnya. “Silakan kumpulkan kertas di depan, meja guru, selamat istirahat,” Abraham berjalan, membuka pintu untuk siswanya keluar dan menikmati waktu istirahat mereka. Raveena bangkit dari duduknya, memegang selembar kertas yang ia taruh di atas meja guru dan berjalan meninggalkan ruang kelas.

Walau tampak berjalan dengan sebuah tujuan, Raveena sendiri tidak tahu sebenarnya ia hendak menghabiskan waktu istirahatnya kemana. Tidak adanya salahnya jika berkeliling sekolah lagi, pikirnya sambil melangkah ke lantai satu. Derap kaki terdengar ribut bersentuhan dengan lantai keramik, suara yang semakin dekat dengan figure Raveena yang sedang berjalan santai tanpa arah. Rangkulan yang mampu membuat tubuh Raveena sedikit terdorong, bahkan hampir terjatuh tiba-tiba melekat pada punggung Raveena. Sama seperti sebelumnya, pelakunya adalah Cordelia.

“Ayo makan di kantin bareng!”

Setengah berteriak, Cordelia meminta Raveena menikmati waktu istirahat bersamanya. “Tentu, mari ke kantin,” Raveena menyetujui ajakan Cordelia, toh, ia sedang senggang dan tidak tahu harus kemana. Langkah Raveena mengikuti langkah Cordelia yang terbilang gesit juga lebar. Langkah yang membawa mereka ke kantin yang begitu ramai oleh siswa-siswi, membuat atmosfer terasa menyesakkan dada. Cordelia mengeratkan rangkulannya pada Raveena, berpikir bahwa Raveena memiliki kemungkinan besar untuk terseret arus di kantin.

“Tidak jajan?”

“Tidak, aku bawa bekal.”

“Tidak makan bekal juga?”

“Entah kenapa malas. Rasanya pasti memuakkan juga.”

Cordelia menyodorkan jajanannya ke depan Raveena, seolah menyuruhnya memakannya. “M-A-K-A-N.” Cordelia menyodorkan sesendok bakso yang ia pesan. Menyuruhnya makan dengan penuh penekanan. “Jika kau tidak mau makan bekalmu, setidaknya makan ini. Walau hanya sesuap saja, cepat buka mulutmu,” Titah Cordelia dengan laga sok memerintah.

Merasa tidak enak kepada Cordelia yang telah berbaik hati membagi sesuap makanan yang ia pesan, Raveena membuka mulutnya, menerima suapan dengan tidak enak hati. Mengunyah makananya perlahan, mengecap rasa asin dan gurih dari suapan itu. “Enak ‘kan?” Cordelia memiringkan kepalanya, bertanya kepada Raveena mengenai makanan yang ia pesan.

“Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau ucapkan waktu itu, sebelum Pak Ardi masuk kelas?”

“Hm? Lupakan saja itu.”

Cordelia mengibaskan tangannya, walau begitu, tidak meninggalkan kesan pensaran dalam diri Raveena.

Pukul 11.27

“Ngomong-ngomong, mau bertukar nomor ponsel?” Cordelia merobek secuil kertas, mengeluarkan bolpoinnya dan hendak menuliskan nomor ponsel Raveena.

“Tentu, sebentar, ya.”

Tangan Raveena mengambil buku catatan berukuran kecil dari dalam tasnya, membalikkan halaman yang terdapat tulisan nomor ponselnya kemudian menunjukkannya kepada Cordelia. Selesai mencatat nomor ponsel Raveena, Cordelia menyerahkan robekan kertas bertuliskan nomor ponselnya kepada Raveena. “Jangan sungkan untuk mengirimiku pesan singkat.”

“Aku duluan, sampai jumpa.” Cordelia menaikki sepedanya, mengayuh menjauhi figur Raveena.

Sekarang, Raveena berdiri di depan gerbang, menunggu kehadiran sang kakak yang akan menjemputnya. Dirinya menendang kerikil yang sekiranya dekat dengan kakinya, tetap menunggu sang kakak datang. Helaan napas sebal bercampur kesal keluar dari mulut Raveena. Ditengah rasa sebal yang menghampiri, bunyi klakson yang khas di telinga Raveena menyapa, mengusir rasa sebalnya. Kendaraan berjenis mobil itu melaju mendekati figur Raveena yang masih berdiri di depan gerbang.

Kaca mobil diturunkan sedikit, menampilkan Dharmandra dengan wajah kusutnya, sepertinya habis bangun tidur. “Maaf telat, ketiduran tadi,” Dharmandra memberi alasan relevan mengenai keterlambatannya menjemput sang adik. Raveena yang masih sebal hanya mengangukkan kepalanya dan langsung memasuki mobil. “Bagaimana hari pertama di SMA?” Tanya Dharmandra kemudian menguap lebar. Samar-samar menggelengkan kepalanya, guna mengusir rasa kantuk. “Di luar dugaanku,” Jawab Raveena sambil menyenderkan punggungnya. Maniknya menatap langit-langit mobil. Mengilas balik ingatannya selama di sekolah tadi, mungkin menyenangkan, namun juga menyebalkan dan menyesakkan begitu melihat bagaimana cara bergaul dijenjang SMA.

“Wali kelasmu bagaimana, orangnya seru?”

“Lumayan, gurunya masih muda juga, jadi terasa lebih dekat saja.”

“Sudah dapat teman disana?”

“Iya. Namanya Cordelia Lea, sebenarnya aku tidak begitu suka dekat dengannya. Agak sok asik, tapi tidak mengapa juga, sih. Lebih baik daripada tidak mendapat teman di hari pertama.”

Dharmandra menatap sang adik lewat spion yang terpasang di tengah langit-langit mobil bagian depan. Raveena yang menatap kosong langit-langit mobil dengan jenuh. Kemudian, mengalihkan kembali pandangannya ke jalanan.

“Bagaimana langkah pertamamu mencari, apa sudah dimulai?”

“Iya, tentu saja.”

***

Hari Selasa.

Zuuuuuuuuuun….. Zuuuuuuuung….

Suara rendah mengalun keluar dari hairdryer. Jika kalian berpikir Raveena tengah mengeringkan rambut menggunakan hairdyer, kalian salah. Alat pengering itu ia gunakan untuk membantu membuat alibi supaya ia memiliki alasan agar tidak perlu hadir ke sekolah. Membuatnya seolah-olah terkena demam mendadak. Dengan begitu ia bisa menghindari suasana paling tidak mengenakkan. Punggung tangan Raveena mengecek suhu kening, ketiak, dan tengkuk, dirasa sudah cukup ia menaruh hairdryer ke tempat semula dan segera menghampiri Obelia, sang ibu yang berada di ruang tengah. Wanita paruh baya itu sedang bersiap menuju kampus tempatnya mengajar.

“Raveena kenapa belum bersi—”

“Aku mendadak merasa tidak enak badan.”

Tentu ia berbohong, ia dalam keadaan baik-baik saja tentunya. Obelia mendekati figur Raveena di tangga, menempelkan punggung tangannya di kening dan ceruk leher Raveena, memastikan kesehatan sang putri. “Kalau begini, ibu akan menghubungi wali kelasmu, kembalilah ke kamar dan istirahat,” Dengan penuh kasih, tangan Obelia mengelus lembut surai Raveena, menyuruhnya beristirahat sampai keadaannya pulih. Anggukkan Raveena menjadi jawaban dari perintah Obelia.

Kakinya menaiki tangga, sambil berpikir tentang sifat sang ibu. Bisa bersikap lembut, namun juga tegas dan menekan dalam waktu bersamaan, membuat Raveena, juga Dharmandra merasa serba salah. Sampai di kamar, Raveena langsung merebahkan dirinya di atas kasur, membalut tubuhnya dengan selimut tebal, berlaga ia benar-benar kedinginan. AC yang menyala, ia matikkan, membuka sedikit jendela supaya udara segar juga hangat pagi hari masuk dan menggantikan udara dingin dari AC.

Pintu diketuk kemudian dibuka, menampilkan sang ibu yang membawa segelas teh hangat untuk putrinya. “Kata wali kelasmu tidak mengapa izin sementara waktu sampai keadaanmu pulih, sekarang istirahatlah. Jika sudah merasa lebih baik hubungi ibu atau kakak, hari ini kau sendirian di rumah tidak mengapa ‘kan?” Seluruh perhatiannya tercurah kepada Raveena yang masih terbaring. “Iya, tidak mengapa. Hati-hati dijalan, bu.” Obelia mengangguk, berjalan keluar kamar Raveena dan menutup kamarnya rapat.

Suara pintu tertutup terdengar samar dan bertubrukan dengan suara lain. Raveena keluar kamar, mengintip dari tangga untuk memastikan bahwa kakaknya dan ibunya benar-benar pergi meninggalkan rumah. Setelah memastikan, Raveena kembali ke kamar, menyetel simfoni Four Season miliki Vivaldi dengan volume sedang dari ponselnya. Tubuhnya dihempaskan di atas Kasur, menikmati suasana tenang.

Ia bisa lepas dari rasa gugup dan ketidaknyamanan di kelas. Pengecut. Ia sendiri mengakui pernyataan itu, terlalu takut memulai sesuatu, meski pun itu adalah hal yang disukainya. Raveena terlalu takut melangkah.

Bunyi notifikasi memecah alunan Four Season, pesan singkat masuk disela-sela nada indah. Pesan singkat yang baru saja dikirim oleh Cordelia.Sang pengirim berulang kali mengirimkan pesan spam yang menganggu penerima. Jari telunjuk Raveena menggulirkan pesan satu per satu, mencermati setiap pesannya. Hampir semua pesan yang dikirimkan berisikan hal yang sama: mengapa kau tidak masuk sekolah? Baru saja selesai membaca pesan, Cordelia tiba-tiba saja meneleponnya. Layar panggilan dari Cordelia memenuhi layer ponsel Raveena. Jarinya mengangkat telepon dengan gesit.

“Ada apa?”

“Kenapa kau tidak masuk?? Aku jadi sendirian tahuu!”

“Mendadak tidak enak badan.”

“Itu baru hari pertama lho, langsung tidak enak badan?”

“Semua bisa terjadi mendadak, kau tahu? Lagian ini masih jam pelajaran, kau malah main ponsel.”

“Tenang , aku pura-pura izin ke toilet dan mengantongi ponsel di kantong rok. Jadi tidak akan ketahuan.”

“Kembalilah ke kelas, gurunya bisa curiga kalau kau terlalu lama di toilet.”

“Aww.. Kau mengkhawatirkanku??”

“Hentikan, itu menggelikan. Aku tutup teleponnya, dah.”

Raveena menutup telepon sepihak, kembali melanjutkan Four Season yang terputus tadi itu mengalun lembut. Simfoni berdurasi lebih dari 40 menit itu memantulkan nada tinggi dan rendah bersamaan. Mata Raeevan terpejam, sambil menajamkan pendengarannya, di dalam benak Raveena terbayang banyak hal, hingga akhirnya ia sendiri mengakhiri sesi mendengarkan musik klasik.

“Besok… Lebih baik jika aku masuk saja,” Gumamnya.

***

Hari Rabu.

“Benar sudah pulih?”

Raveena mengangguk sambil mengikat tali sepatunya, mengetuk ujungnya begitu tali terikat sempurna, menyesuaikan dengan ukuran kakinya. Tangannya mengangkat tasnya, menempatkannya di belakang punggung. “Aku pergi dulu,” Raveena melambaikan tangannya di hadapan sang ibu lalu berbalik menuju mobil. Tangan Raveena menarik gagang pintu mobil, menariknya kuat sampai terbuka lebar, kakinya memijak bagian dalam mobil kemudian mendudukkan tubuhnya. Menutup kembali pintu.

Perlahan, mobil melaju keluar dari garasi, membawa Raveena menuju gerbang sekolah. Kali ini tidak alunan lagu yang menyentak dan bersemangat, hanya kesunyian yang ada dan hadir. Dharmandra juga tampaknya tidak tertarik berbicara dalam beberapa jam ke depan dengan siapa pun. Suara khas jalananlah yang menggantikan lagu dari radio mobil.

Pandangan Raveena terfokus pada jalanan, kendaraan-kendaraan yang melaju di sampingnya, membuat suara knalpot yang berisik. Mobil berhenti, tepat di depan gerbang sekolah. Perjalanan ini terbilang sangat cepat, bahkan Raveena baru sadar jika ia telah sampai di tempat tujuan setelah Dharmandra bersiul keras.

“Aku tidak akan menjemputmu kali ini, ada kuliah siang nanti.”

“Baiklah kalau begitu, makasih.”

Raveena membuka pintu mobil, melangkah turun dan menutup kembali pintu mobil. Pergi menjauhi mobil, mendekati lapangan sekolah dengan tergesa-gesa walau bel masuk masih lama berbunyi. Kehidupan di sekolah sudah ramai, siswa siswi berjalan ke sana kemari dengan teman mereka, berbicara ini-itu sambil berkeliling, atau mungkin menyandarkan punggung di dinding selasar untuk bersantai.

Semua kegiatan itu berlangsung secara harmonis, menjadikannya aliran darah bagi sekolah dan pusatnya menjadi sebuah jantung. Membuat semua hidup, bergerak, berbicara, berinteraksi, menyendiri dan memegang control.

Terekam jelas di mata Raveena, tarik-ulur itu kembali terulang setiap menit. Tanpa ada rasa lelah mereka mengambil posisi, bersiap merebut tali control. Setelah menaiki tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua, ia berbelok kea rah kanan, arah yang serupa dengan yang kemarin ia ambil. Dirinya mempersiapkan mental sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kelas.

Sama seperti hari pertama masuk, beberapa pasan mata menatapnya lekat-lekat. Memperhatikan gerakan Raveena sampai ia duduk di tempat duduknya, baru beberapa pasang mata itu lepas dari pandangan Raveena. Dirinya menghela napas lega, menolehkan kepalanya untuk mencari eksistensi Cordelia. Belum datang, ya? Batinnya. Ia menompang dagunya, menatap papan tulis yang belum sempat dibersihkan kemarin. Masih terlihat jelas tulisan tak beraturan tertulis di sana. Tampaknya tata tertib di kelas dan para pengurus kelas.

Pemilihan ketua dan wakil, ya?

Waktu berjalan sama halnya denga para siswa yang baru saja memasuki area seklah, berjalan menemukan kelas mereka dan tempat duduk masing-masing. Lama dinanti Raveena, Cordelia melangkah masuk dengan langkah lebar, sosoknya menghampiri tempat duduk di sebelah Raveena yang kosong, meletakkan tasnya dan duduk di samping Raveena. Menemani teman pertamanya di SMA itu. “Menungguku?” Cordelia iseng bertanya. Kepala Raveena menangguk, “Iya, kau tahu aku tidak punya teman selainmu di sini,” Kata Raveena.

“Ada yang ingin ku bicarakan denganmu saat istirahat nanti, tidak masalah ‘kan?”

Kening Raveena mengerut, mempertanyakan apa yang akan mereka bicara nanti. Karena penasaran, ia mengangguk, menyetujui permintaan Cordelia. “Tak masalah, kok,” Balas Raveena sambil menggelengkan kepala. Bersamaan dengan itu, bel masuk berbunyi nyaring.

Pukul 09.45

Tepat saat jam dinding menunjukkan pukul 09.45 bel istirahat pertama berbunyi. Siswa dan siswi yang berada di kelas berhamburan keluar, menyambut udara segar setelah jenuh dengan materi yang dipaparkan. “Ayo, bicara di ruang kesenian saja,” Cordelia bangkit dan menggandeng tangan Raveena, membawa dirinya ke ruang kesenian yang berada di lantai tiga. Ruang berukuran besar yang menyimpan banyak perlengkapan lukis dan kanvas tua berserakan di lantai. Sepertinya petugas kebersihan tidak tertarik membersihkan ruangan ini. Kain putih dan kertas sketsa bertebaran di sepanjang lantai.

Walau terlihat sangat menganggu dan kotor, di mata Raveena ruangan ini memiliki keteraturan indah dengan barang yang berserakan itu. Ruangan yang bisa disandingkan dengan studio melukis klasik ini akan menjadi tempat paling di sukai Raveena ketimbang ruangan lainnya. Sambil menunggu Cordelia membuka mulutnya, Raveena menyingkap sejumlah kain yang menutupi kanvas pada penyangga, melihat hasil karya di baliknya.

Banyak dari hasil karya itu yang berupa lukisan abstrak atau tiruan dari beberapa lukisan terkenal, misalnya Water Lilies dan Agapanthus karya Clude Monet yang ditiru sempurna serupa dengan yang asli mulai dari tekstur dan goresan atau lukisan The Persistence of Memory yang masih setengah jadi, namun tidak menghilangkan kesan kuat dari karya aslinya yang sempurna. Lukisan-lukisan itu membuat Raveena dengan mudah terpana, menatap penuh binar kekaguman. Goresan kuas yang menunjukkan teknik tinggi para pelukis.

“Kau senang melukis, ya?”

“Iya, kadang aku akan melukis di saat sengang.”

Cordelia menyodorkan secarik kertas yang dilipat kecil dari dalam kantong roknya, memberinya pada Raveena. Dari mata Raveena tampak sedikit kekhawatiran. Pikiran negatifnya tiba-tiba muncul di saat seperti ini. Jangan-jangan dia mengancamku? Atau dia mau melakukan perisakan di ruang tertutup? Pikirnya dengan degup jantung panik. Takut-takut ia mengambil kertas yang disodorkan Cordelia. “Tenang saja, itu bukan hal aneh-aneh, kok. Hilangkan pikiran negatifmu itu,” Cordelia mengibaskan tangannya di depan wjah sambil terkekeh melihat raut Raveena yang panik. Begitu mendengar pernyataan itu, Raveena merasa sedikit lega. Tangannya membuka lipatan kertas itu hingga berbentuk utuh, kertas dengan ukuran A5 itu berisikan formulir ekstrakulikuler. Di kolom ekstrakulikuler tertulis klub melukis. Hal yang cocok dengan diri Raveena. “Kemarin semua siswa mendapat formuIir pendaftaran yang sesuai dengan bakat dan minat mereka,” Jelas Cordelia.

“Waktu Pak Ardi meminta kita semua menjawab pertanyaan di selembar kertas, kau ingat? Semua itu untuk menentukan bakat dan minat masing-masing siswa. Karena kau tidak masuk kemarin, Pak Ardi menitipkan kertas itu kepadaku.” Tambahnya.

“Jadi ini seperti rekomendasi?”

“Semacam itu.”

“Semua mendapat rekomendasi, silakan kalau mau mengambilnya, tapi tidak apa-apa jika kau mau menolak rekomendasi itu.”

Raveena ragu, haruskah ia mengambilnya? Haruskah ia menolaknya? Apa yang harus ia pilih? “Waktu untuk menentukkan tidak ditentukan, jadi kau bisa mengambil atau menolak rekomendasi itu kapan saja.” Raveena mengangguk, kembali melipat kertas itu dan menyimpannya di saku seragam. Ia kembali fokus ke lukisan yang bergambar The Girl With Pearl Earring karya Johannes Vermeer, yang dilukis dengan gaya yang berbeda dengan karya aslinya, goresan kuas yang serupa dengan IMPASTO itu membuat karya Johannes Vermeer terlihat seperti hasil karya Vincent Van Gogh. “Ada yang ingin ku bicara kan juga denganmu, diluar topik ini,” Kata Cordelia, memulai inti percakapan yang sebenarnya.

“Silakan saja mulai percakapannya.”

Cordelia yang sedari tadi duduk di kursi putar berhenti memutarkan kursinya. “Kau tampak kebingungan dengan sesuatu, kau bisa bicara denganku tentang hal itu. Sekiranya aku bisa membantu, aku akan membantumu sekuat tenaga, jika sekiraku aku tidak bisa membantumu, maaf, ya.” Raveena menatap Cordelia sekilas dan kembali menatap lukisan-lukisan yang terpajang.

“Akhir-akhir ini… aku merasa kebingungan.”

“Jati diriku ini apa?”

Raveena membuka suaranya, suara yang terdengar datar dan sepi. “Ah, tampaknya masalah yang rumit, ya,” Cordelia memberi pendapat. “Mungkin, mungkin saja bisa bertambah rumit,” Balas Raveena sambil menyeret sebuah kursi untuk ia duduk. “Ku pikir selama ini aku berjalan tanpa tahu apa tujuanku sebenarnya, berjalan tanpa membawa identitasku. Siapa sebenarnya aku? Apa yang jati diriku? Dimana tempatku berada, tempat untukku berlabuh sajauh mungkin? Apa arti hidupku dengan diriku yang tak berguna ini? Hampir setiap malam pertanyaan itu muncul. Tentu aku merasa terganggu, mereasa ingin tahu jawabannya. Jadi, malam sebelum masuk sekolah aku memutuskan untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu,” Raveena berkeluh kesah, menceritakan pertanyaannya kepada Cordelia.

“Begitu, ya. Pertanyaan yang lazim bagi remaja di masa pubernya. Mengenal diri sendiri memang tak kalah penting.”

Cordelia mengelus dagunya, berpose selayaknya orang yang tengah berpikir keras. “Aku akan membantu beberapa pertanyaan saja, karena ku pikir aku hanya bisa membantumu menjawab beberapa saja, yang pertama, ‘apa arti hidupku dengan diriku yang tak berguna ini’,” Raveena menatap sendu Cordelia yang sudah berbaik hati membantunya. Sejak pertama kali Raveena bertemu dengan Cordelia, perempuan itu memang sudah berbaik hati mau menjadikan orang seperti Ravaeena sebagai teman pertamanya saat masuk SMA. Mungkin setelah ini, ia harus memberi sesuatu yang amat spesial untuk Cordelia.

“Raveena, jika kau menganggap dirimu ini tidak berguna, kau salah besar! Kau tahu apa alasanku mendekatimu saat hari pertama?” Lantas Raveena mengeleng tak tahu, Cordelia yang melihat respon Raveena membuka kembali mulutnya. “Karena aku bisa melihat apa yang menjadi daya tarikmu, walau kau sendiri tidak menyadarinya. Sesuatu yang berharga itu masih samar-samar, tapi suatu saat nanti setelah kau menemukan jati dirimu, sesuatu itu pasti akan muncul dan terlihat, bersinar terang menyelimuti hatimu, semua orang memiliki kehidupannya masing-masing, begitu juga dengan diriku.”

“Di dalam kehidupan setiap orang itu, semuanya memiliki makna tersendiri. Paham? Jadi optimislah, buang jauh seluruh perasaan yang menganggapmu tidak berguna itu. Arti hidupmu itu, menggapai apa yang kau inginkan. Hidup untuk mengejar mimpi.”

Cordelia menelan salivanya setelah berbicara panjang lebar di hadapan Raveena. “Dan yang menentukan apa yang kau hendak gapai adalah dirimu sendiri, tidak ada yang lain,” Final Cordelia. Raveena terenyuh, kalbunya bergetar mendengar Cordelia mengatakan hal semacam itu langsung dihadapannya. “Kedua, apa jati dirimu, aku tidak menjawabnya langsung kepada poin, karena yang tahu jati dirimu adalah dirimu sendiri, bukan aku. Arti jati dirimu itu tentang apa yang kau rasakan, apa yang kau suka dan benci, apa perasaanmu terhadap sesuatu, yang kagumi setengah mati, apa yang kau hindari. Intinya tentang apa respon dirimu terhadap sesuatu. Mungkin di masa remaja seperti ini masih terlihat samar, tapi suatu saat nanti aku bisa melihat jelas jati dirimu itu, ya, mulai dari sekarang, kejar hal itu,” Cordelia mengulas senyum manis, mengarahkannya kepada Raveena.

Tentu saja Raveena semakin tersentuh dalam kata-kata Cordelia. Dari situ, ia mendapat sedikit pencerahan, mendapat sebuah lentera untuk menerangi jalan. “Adakah sesuatu yang bisa ku persembahkan untukmu, sebagai balas budiku untukmu yang mau membantuku ini?” Raveena mencondongkan tubuhnya, menatap Cordelia penuh harap.

“Ada, hanya satu,” Jawab Cordelia, menunjukkan jarinya yang menandakan angka satu.

“Apa itu?”

“Saat kau sudah menemukan jati dirimu dan apa yang hendak gapai juga sudah meraihnya, temui aku. Tunjukkan padaku bahwa kau telah berhasil dalam hidupmu, suatu saat nanti.”

Raveena berusaha mati-matian tidak menitikkan air matanya melihat senyum lembut Cordelia. Harusnya ia meminta maaf kepada Cordelia sudah memberi kesan pertama bagi Cordelia sebagai anak sok asik. Faktanya, ia mau meluangkan waktu untuk Raveena yang bukan apa-apa ini dan membantunya dengan imbalan sederhana. “Aku tidak ingin kau menyesal di masa depan nanti, aku ingin kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan sukses,” Lirih Cordelia.

“Kalau dibilang, hidupku ini dalam keterpurukan. Aku bukan berasal dari keluarga kalangan atas seperti mayoritas siswa di sini, keluargaku miskin mau beli barang ini dan itu rasanya sulit. Walau konteks sulit dalam hal berbeda, aku bisa merasakan betapa tidak enaknya hidup terkekang kesulitan. Begitu melihatmu kebingungan dan kesulitan rasanya aku seperti melihat diriku, dan berpikir ‘Lihatlah betapa kesulitannya dia’. Aku jadi terdorong, dan berpikir membantumu. Dengan begitu aku akan membantumu,” Ucapnya penuh sendu.

“Aku ingin melihat sahabatku ini berkembang dari keterpurukan batinnya, jadi.. bisa kau lakukan itu untukku?” Tanya Cordelia.

“Tentu, dengan sepenuh hati akan ku lakukan.. untukmu.” Jawab Raveena.

Sebuah perasaan bercampur, menciptakan perasaan baru. Raveena tenggelam di dalamnya, hingga perasaan itu memenuhi jiwanya. Perasaan itu, perasaan sonder; keadaan dimana seseorang merasa bahwa kehidupan seseorang sama rumitnya dengan kehidupan yang kita alami.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali